Impian Sejak Kecil

Aku adalah siswa SMPN 2 Pare. Aku mempunyai impian sejak kecil, impianku adalah menjadi nomer satu dalam lomba berbidang study Matematika. Aku mempunyai impian itu sejak kecil, sejak aku kelas satu SD di SDN Pelem III. Aku memang mengimpikan hal itu, karena aku hanya ingin membanggakan orang tuaku. Karna itulah aku jadi bersemangat belajar. Saat itu, aku tinggal di perumahan, its jangan salah, perumahanku adalah perumahan SD. Tidak seperti perumahan milik orang kaya yang semuanya kini menjadi temanku sekolah. Aku berjanji akan ikut dalam lomba Matematika sampai tingkat kabupaten. Akhirnya setelah melewati masa SD kelas satu, akupun pindah rumah ke desa Krenceng, kecamatan Kepung. Dan akhirnya tempat sekolahkupun juga pindah ke SDN Krenceng 2. Disitu, aku mempunyai banyak teman sehingga aku sering pulang sore, sampai jam 6 petang. Hanya karena aku kebanyakan teman, aku melupakan niatku untuk masuk lomba berbidang study Matematika. Tidak seperti di SDN Pelem III, aku rajin belajar karena aku tidak pernah bermain bersama teman – teman sesekolahan, kecuali kalau aku sedang sekolah. Aku sering pulang sore, hampir tiap hari aku bermain, dan kebanyakan, aku berangkat setelah sekolah sampai jam 6 petang. Meskipun aku sudah mendapatkan kemarahan orang tua hampir setiap hari, aku tidak pernah kapok untuk bermain sampai hampir malam. Akhirnya hanya dua tahun aku sekolah di SDN Krenceng 2. Karena aku kebanyakan bermain, akhirnya aku pindah sekolah di SDN Tertek IV. Disitu jugalah tempat bapakku bekerja sebagai guru. Aku menjadi lebih banyak belajar, karena aku menjadi ingat tujuanku untuk masuk dalam lomba berbidang study Matematika.

Ketika aku sekolah di SDN Tertek IV, aku sudah kelas 4, jadi aku sudah bisa bersiap – siap untuk mengikuti lomba. Persiapan demi persiapan sudah aku lakukan untuk menyambut kedatangan lomba. Akhirnya tidak terasa 1 tahunpun berselang, saat – saat yang kunantipun telah tiba. Saat itu aku sangat mematuhi aturan – aturan yang ditentukan. Pada waktu aku ikut lomba pertama kali, itu bertempat di SMPN 2 Pare. Jenis lomba yang pada saat itu dilombakan adalah lomba MIPA. Seingatku peraturan saat itu adalah tiap sekolah mengeluarkan 2 kelompok. Tiap kelompok terdiri dari 3 orang anak. Hadiah bagi juara 1 sampai juara 3 adalah sebuah piala dan piagam, sedangkan bagi peringkat selanjutnya hanya mendapatkan piagam. Ketika itu temanku adalah 1 anak laki – laki dan 1 anak perempuan. Sedangkan kakak kelasku terdiri dari 2 anak perempuan dan 1 anak laki – laki. Aku mendapatkan kelas yang sama dengan kelas kakak kelasku. Sebelum lomba dimulai, aku dan teman – temanku menyempatkan diri untuk membaca, setelah itu baru kita menikmati snack yang ada di SMPN 2 Pare. 5 menit sebelum lomba dimulai aku meyempatkan untuk berdoa sejenak. Dan bunyi tetttt dari SMPN 2 Pare menandakan bahwa soal bisa mulai dikerjakan. Didalam kami menjawab soal, aku, dan teman – temanku saling melempar jawaban kepada teman yang lain. Kadang kala kelompok dari SD lain saling bercontekkan, padahal pada awal sudah dijelaskan kalau ketahuan bercontekkan akan dikenakan sanksi yaitu didiskualifikasi. Akhirnya waktu 1,5 jam tak terasa, waktu kami untuk menyelesaikan sosal tinggal 30 menit. Akhirnya pertanyaan di soal yang tadi diberikan kami jawab dengan secepat mungkin karena sebentar lagi bel akan berbunyi untuk menandakan bahwa waktu untuk menjawab soal telah habis. Jawaban kami banyak yang dikosongi bukan hanya karena waktu sudah hampir habis, tetapi peraturannya kalau salah nilai akan dikali -1, kalau dikosongi nilai akan dikali 0, dan kalau betul akan dikali 3. Akhirnya waktu untuk mengerjakan soal telah habis, kami segera memberesi hasil pekerjaan kami. Kamipun keluar untuk mengistirahatkan pikiran, setelah itu aku dan temanku laki- laki pergi ke kantin untuk menikmati bakso. Hanya untuk menikmati bakso kami harus mengantri sangat lama, tapi aku dan kawanku tetap bersabar, akhirnya setelah hampir 30 menit kami mendapatkan bakso. Setelah mendapat bakso masalah datang kembali, kami harus mengantri untuk mendapatkan kursi, sambil aku menunggu kursi dan membawakan semangkuk bakso, temanku mengantri lagi untuk mendapatkan es jus melon. Akhirnya setelah temanku mendapatkan es jus, anak didepan tempatku menunggu akhirnya pergi untuk membayar pesanan mereka, sedangkan kami sudah membayar dari tadi. Setelah bakso kami habis, lalu kita memesan snack untuk persiapan pulang. Setelah semuanya kami rasa cukup, kami pergi meninggalkan kantin untuk mencari teman kami yang perempuan. Setelah sekian lama kami mencari, akhirnya kami ketemu dengan dia di aula. Kami tidak sempat berbincang lama, ternyata ada panggilan pengumuman juara lomba. Hati kami bertiga berdetak kencang, pengumuman lombapun dimulai. Ternyata kami bukan juara tiga. Juara keduapun dibacakan, ternyata juga bukan kami. Sekarang hati kami bertiga berdetak sangat – sangat kencang, bahkan lebih cepat dari yang sebelumnya. Setelah kami berdoa mati – matian ternyata juaranya juga bukan kami. Lalu kami cepat – cepat melihat papan pengumuman di dekat ruang guru. Ternyata kami mendapatkan juara 22, sedangkan kakak kelas kami mendapatkan urutan ke 36. Meskipun kami kalah, kami tidak menyesal. Meskipun kami kalah, kami bertiga pulang dengan wajah ceria, maklum pengalaman pertama. Setelah melewati perjalanan dari SMPN 2 Pare ke sekolahanku, aku langsung menceritakan hal ini kepada guru kelasku. Memang mengikuti lomba itu harus berani mengorbankan waktu kita belajar materi dikelas. Setelah lomba di SMPN 2 Pare dilakukan, aku yakin bahwa ada banyak lomba yang sedang menantiku.

Ketika semester kelas V aku lewati, ada lomba yang berjenis MIPA, namun MIPA kali ini berbeda. Karena MPA ini bisa memilh bidang study Matematika ataupun IPA. Beberapa hari sebelum lomba MIPA dilakukan, aku dan kawanku mendapatkan pengarahan dari guru kelas kami. Setelah hampir 3 hari mendapatkan pengarahan, akhirnya pengarahan dari sekolahanpun juga selesai. Tapi besok masih hari Minggu, jadi aku masih bisa belajar. Tetapi aku juga tidak lupa untuk memanjatkan doa kepada Allah SWT. Akhirnya waktu satu hari itu tidak terasa dan akhirnya hari Seninpun datang juga. Tapi keberangkatan kami agak sedikit terganggu karena ada upacara bendera yang rutin dilakukan setiap hari Senin. Ketika kami berangkat kesana, aku melihat banyak anak yang juga mengikuti lomba. Setelah prosedur lomba dilakukan, tibaalah waktu untuk mengerjakan soal. Tetapi juga tidak lupa kupanjatkan doa sebelum aku mulai mengerjakan soal. Sebelum waktu mengerjakan habis, pekerjaanku sudah selesai, jadi aku bisa mengkoreksi jawabanku. Datanglah bunyi bel pertanda waktu mengerjakan soal habis. Setelah menunggu agak lama akhirnya waktu pengumuman tiba juga. Setelah semua anak hadir di situ pengumuman akhirnya dimulai. Ternyata juara Matematika nomer 1 adalah Rossa, yang sekarang menjadi teman sekelasku. Pengarahan dari kecamatanpun dilakukan, akhirnya hari Rabu aku berangkat. Setelah mengikuti lomba tingkat kabupaten seperti biasa tak lupa kupanjatkan doa. Alhamdulillah, ternyata aku masuk kedalam 15 besar sekabupaten. Akhirnya lomba yang kedua dilakukan. Sebelum masuk kelas aku memanjatkan doa yang sangat panjang. Tibalah bunyi tetttt dari sekolahan itu. Pengumumanpun kembali dilakukan. Akhirnya anak Parre bisa masuk dalam 13 besar, namun tinggal aku yang tersisa. Ketika nomer pengumuman akan habis akhirnya namaku keluar juga. Akhirnya sekarang tinggal pengumuman medali. Ternyata aku mendapatkan medali Perunggu. Sekarang aku bisa pulang dengan wajah ceria. Tak lama menjelang kepulanganku dari Kediri kami dipanggil lagi untuk mengikuti lomba di Paron. Setelah lomba dilakukan, ternyata ada teman yang gugur, tapi aku tidak bisa menyebutkannya. Lalu pembelajaran dari kabupaten dilakukan, akhirnya pembelajaran itu selesai dilakukan setelah tiga hari. Kami berangkat ke Surabaya naik bus dari kabupaten, setelah dua hari tinggal disana, lombapun dilakukan dengan hati – hati aku menjawab soal, tapi waktu tak terasa jika sudah habis. Akhirnya aku bisa pulang dengan wajah ceria meskipun hasil lombaku entah menang ataupun kalah. Semuanya itu sudah diatur oleh Allah SWT. Setelah 2 hari tinggal, ternyata anak Pare kalah di tingkat itu. Tapi aku tidak berkecil hati karena kuyakin bahwa nanti akan ada lomba lagi. Itulah pengalaman paling berkesanku. Aku tidak akan melupakan itu sepanjang hidupku.