Agum Gumelar: Kesabaran Saya Sudah Habis Ketua Komite Normalisasi menyatakan akan bersikap tegas. Apa langkah yang akan dia ambil?

Komite Banding meloloskan George Toisutta dan Arifin Panigoro untuk masuk bursa pencalonan Ketua Umum PSSI. Ini bertentangan dengan keputusan FIFA yang melarang mereka, bersama Nurdin Halid dan Nirwan Bakrie, untuk ikut pemilihan–di atas pertimbangan bahwa pencalonan keempat mereka telah dianulir Komite Banding PSSI sebelumnya.

Ketua Komite Normalisasi Agum Gumelar pun angkat bicara menanggapi kemelut ini. Dia menyatakan akan mengambil sikap tegas. “Kesabaran saya sudah habis,” kata letnan jenderal purnawirawan ini, saat diwawancarai secara khusus oleh wartawan VIVAnews dalam dua kesempatan, pada Selasa dan Kamis malam kemarin. Berikut petikannya.

Komite Banding meloloskan nama George Toisutta dan Arifin Panigoro. Tanggapan Anda?

Semuanya sudah dibahas FIFA. Dan FIFA sudah memutuskan hal itu dalam suatu sidang darurat. Biasanya kalau dalam kondisi darurat, statuta nomor dua. Namanya juga darurat. Sikap resmi Komite Normalisasi akan dikeluarkan Jumat, 13 Mei 2011. Namun, Kongres PSSI akan berlangsung sesuai jadwal, pada 20 Mei 2011 mendatang.

Bagaimana soal kemungkinan FIFA menjatuhkan sanksi menyusul keputusan Komite Banding itu?

Komite Normalisasi dalam memutuskan memiliki pandangan jauh ke depan, untuk kepentingan yang besar. Jangan sampai kita diberikan sanksi teramat berat. Kalau kena sanksi maka akan membunuh semua yang telah kita lakukan. Percuma semua proses pembinaan yang kita lakukan. SEA Games kita nanti tidak bisa main.

Keputusan Anda sebagai ketua Komite Normalisasi untuk berjalan sesuai keputusan FIFA telah menuai protes dari Kelompok 78. Mereka bahkan mengancam akan melengserkan Anda saat Kongres PSSI nanti. Bagaimana tanggapan Anda mengenai hal ini?

Begini ya, jadi pilihan kepada Indonesia saat ini hanya dua, apakah kita siap di-suspend atau tidak? Jadi kalau kita berpandangan jernih dan tidak emosional saya yakin sekali mayoritas masyarakat bola dan masyarakat Indonesia tidak menginginkan kita di-suspend. Artinya semua petunjuk dari FIFA yang disampaikan kepada pemegang mandat yaitu komite Normalisasi harus dipatuhi dan harus dipedomani.

Kita harus bisa menempatkan kepentingan yang lebih besar di atas kepentingan-kepentingan pribadi dan golongan. Kalau kita di-suspend karena menentang keputusan FIFA yang rugi itu Indonesia. Inilah yang mendasar bagi Komite Normalisasi. Oleh karena itu semua langkah yang saya lakukan adalah demi mencegah itu. Bahwa ada orang berpendapat lain itu hal yang wajar, namun perbedaan ini jangan dijadikan suatu peluang untuk melakukan tindakan yang di luar ketentuan.

Di luar ketentuan seperti apa maksudnya?

Seperti kalau ingin membubarkan Komite Normalisasi jelas jalurnya harus ke FIFA bukan saat Kongres PSSI. Ajukan saja ke FIFA. Karena itu saya telah mengatakan kepada Pak George dan Arifin serta pendukungnya, silahkan bentuk tim yang kuat untuk melobi FIFA agar menganulir keputusannya sehingga mereka bisa maju pada pemilihan nanti. Silakan bentuk tim. Saya sudah berjuang untuk itu tapi gagal. Ini opsi pertama yang saya tawarkan kepada mereka (Kelompok 78). Silahkan bentuk tim, sampai batas waktu 13 Mei 2011, saat saya mengumumkan calon-calon yang definitif untuk maju pada pemilihan nanti.

Opsi kedua adalah mengadukan FIFA ke CAS (The Court of Arbitration for Sport). Kalau tidak puas dengan keputusan FIFA, adukan saja ke CAS.  Jangan kami yang diobok-obok.

Sedangkan opsi ketiga adalah, alangkah cantiknya, alangkah bahagianya bangsa ini bila Pak Arifin dan Pak George serta pendukungnya menerima keputusan FIFA dengan legowo. Saya yakin dengan sikap seperti ini, respek masyarakat terhadap pak Arifin dan Pak George akan baik, dan sikap ini juga akan menyelesaikan permasalahan yang ada saat ini.

Saya sempat kaget dengan sikap kandidat lain yang saya perjuangkan kepada FIFA, Nirwan Bakrie. Saya kaget saat saya memimpin rapat Beliau datang dan menyatakan berterima kasih kepada saya karena sudah memperjuangkan dirinya dan menyatakan legowo menerima keputusan FIFA.

Pada 14 April lalu, Anda mengkonversi pertemuan dengan para pemilik suara PSSI menjadi Kongres PSSI. Keputusan ini sesuai dengan keinginan Kelompok 78 yang sejak awal menginginkan adanya Pra Kongres sebelum Kongres sebenarnya digelar 20 Mei 2011. Anda juga berusaha melobi FIFA agar meloloskan tiga nama termasuk Arifin Panigoro dan George Toisutta. Kenapa Anda melakukan ini?

Begitu saya ditunjuk sebagai Ketua Komite Normalisasi yang saya lakukan adalah saya berusaha akomodatif, aspiratif, dan komunikatif. Saya ingin memotret peta situasi sebenarnya seperti apa sih. Karena setiap mendapat tugas, saya selalu memtoret segala situasi yang ada.

Oleh karena itu yang saya lakukan adalah menjalin komunikasi. Saya berkomunikasi dengan pengurus PSSI yang lama, Kelompok 78, dengan siapapun yang peduli dengan sepakbola nasional termasuk dengan Pak George Toisuta dan Arifin Panigoro agar saya tahu apa aspirasi mereka. Pertemuan dengan pemilik suara 14 April lalu juga bagian dari cara saya menampung aspirasi.

Dari sini saya mendapatkan sedikit gambaran. Dari sini saya mengambil rencana, bahwa saya harus melaporkan hasil pertemuan secara langsung kepada FIFA. Ditentukanlah waktu 19 April 2011 untuk bertemu Presiden FIFA, Sepp Blatter di markas FIFA, Zurich, Swiss. Saya berangkat ke Swiss berbekal aspirasi yang sudah saya kumpulkan sebelumnya.

Nah, Kelompok 78 juga saya akomodir. Saya mengerti mereka adalah pendukung berat Arifin dan George. Saya tampung aspirasi mereka sehingga dengan masukan dari mereka saya punya senjata ke FIFA agar mengubah keputusannya soal tiga kandidat yang dilarang maju pada pemilihan PSSI, yakni Nirwan Bakrie, Arifin Panigoro, dan George Toisutta.

Namun, upaya saya kemudian tidak berhasil dan FIFA tetap berpegang pada hasil sidang komite darurat yang telah mereka lakukan. Sidang komite darurat seperti ini jarang sekali dilakukan, jadi FIFA harus konsisten dengan hasil sidang tersebut.

Saya kemudian melaporkan secara periodik perkembangan di sini kepada FIFA dan pada 6 Mei 2011, FIFA setelah mendengar Arifin dan George akan banding, mengancam akan menjatuhkan sanksi berupa suspension jika kami gagal menjalankan misi Komite Normalisasi. Ini yang ingin kami cegah.

Kelompok 78 menuding Anda tidak menyampaikan informasi yang lengkap kepada FIFA saat berkunjung ke Zurich, Swiss. Dalam sebuah acara jumpa pers yang digelar oleh Kelompok 78, salah satu anggotanya, Hadiyandra, bahkan menuding Anda sempat berusaha meloloskan George Toisutta saja. Hadiyandra juga menyebarkan rekamannya kepada wartawan. Bagaimana tanggapan Anda?

Begini ya, saya utarakan saja. Selama di Zurich saya memperjuangkan ketiganya (Nirwan Bakrie, Arifin Panigoro, dan George Toisutta). Pertama saya jelaskan dulu mengenai pertemuan 14 April kepada FIFA. Bahwa saat itu adalah pertemuan dengan pemilik suara, saya mendapat saran dari mereka agar pertemuan ini dikonversi ke Kongres. Saya dengar alasan-alasannya. saya katakan kepada Thierry Regenass (Direktur Keanggotaan dan Pengembangan Asosiasi FIFA) kalau alasan mereka bisa masuk akal. Maka saya terima usulan mereka mengkonversi menjadi Kongres.

Dan saat itu Thierry menyatakan dia mendengar kalau saya dalam tekanan dalam mengambil keputusan itu. Saya katakan, “Tidak ada yang bisa menekan saya. Saya memutuskan itu dengan pertimbangan matang lalu saya laporkan ke FIFA.” Apa keputusan FIFA terserah saja.

Thierry lalu mengatakan kalau FIFA tidak menerima pertemuan itu sebagai kongres dan tetap menganggap Komite Normalisasi bertindak sebagai Komite Pemilihan. Itulah keputusan FIFA. Jadi FIFA tidak mau menerima keputusan Kongres, namun soal pembentukan Komite Banding mereka setuju.

Jadi soal tuduhan kepada saya bahwa saya melaporkan hal yang berbeda kepada FIFA, tidak masuk akal. Bagaimana bisa? Situasi di sini kan transparan sekali. Semua media memuatnya, mulai cetak dan elektronik. Bagaimana saya bisa memanipulasi informasi kepada FIFA? Tidak mungkin. Saya laporkan apa adanya.

Yang kedua mengenai upaya saya dalam meloloskan ketiga calon yang sebelumnya telah dilarang FIFA. Ini yang menjadi poinnya. Ada ungkapan yang mengatakan bahwa FIFA merasa sangat tabu bila ada satu pergerakan yang berada di luar sistem. Ini sebuah preseden buruk bagi FIFA.

Inilah yang membuat Arifin ditolak. Karena, adanya LPI (Liga Primer Indonesia) di luar sistem. Karena itu misi kedua kepada kami adalah: segera LPI ditarik ke dalam sistem atau dibubarkan. Karena, bagi FIFA ini sesuatu yang mengganjal. Karena FIFA tahu Arifin adalah pengagasnya, maka secara tidak langsung Arifin pun di-black list di sana.

Terus saya tanya, mengenai George bagaimana? Geroge kan tidak ada salah. What’s wrong with George? Dia kan tidak salah. Mereka tidak jawab. Saya juga tanya kepada Sepp Blatter (Presiden FIFA) dan juga tidak menjawab soal itu. Blatter hanya membahas soal laporan saya. Blatter lalu bilang saya minta waktu sehari dua hari untuk memutuskan.

Artinya, saya melaporkan, saya sudah berjuang. Kalau tidak, tidak mungkin Blatter meminta waktu. Nah inilah, saya heran kepada mereka (Kelompok 78). Mereka harusnya tahu saya berjuang seperti itu, tapi tidak ada rasa terima kasih. Sudah capek di sana (Swiss) cuma sehari, malah dituduh macam-macam.

Zurich itu apa sih, perjalanan hampir 15 jam dan saya hanya satu hari di sana untuk memperjuangkan ini. Tapi apa yang saya terima? Bukannya rasa terima kasih atau dihargai.

Apakah Anda menyesal?

Tidak menyesal, tapi kami harus tetap konsisten untuk mematuhi pedoman atau keputusan FIFA. FIFA adalah organisasi sepakbola dunia dimana ada 206 anggotanya. Kalau dari 206 ada satu yang nyeleneh kan sangat tidak bagus. Ini juga demi nama baik bangsa, bukan hanya sepakbola.

Komite Normalisasi didominasi oleh Kelompok 78. Setidaknya lima dari tujuh anggotanya adalah bagian dari Kelompok 78. Namun Komite Normalisasi justru memutuskan untuk menolak berkas pendaftaran George dan Arifin. Bagaimana hal ini bisa terjadi?

Saya ingin semua mengerti masalah ini. Ketika saya menerima mandat sekaligus beberapa petunjuk mengenai tugas kami, dan saya juga disebut sebagai ketua dengan tujuh anggota, langkah pertama yang saya lakukan adalah mengundang seluruh anggota pada keesokan harinya, 5 April 2011. Saya minta Pak Joko (Driyono) untuk mengundang rapat pertama dengan saya karena Pak Joko yang ada di sini.

Alhamdulillah, semua bisa hadir dalam rapat. Saya lalu menyampaikan mengenai misi yang diberikan FIFA kepada Komite Normalisasi. Saya katakan kalau kami berdelapan mendapat tugas yang berat namun mulia demi masa depan sepakbola Indonesia.

Karena itu saya ingin mengajak semuanya untuk bekerja sama untuk menyelesaikan misi ini. Kemudian saya utarakan, bahwa saya tidak ingin tahu latar belakang politik mereka. Saya juga tidak ingin tahu pada kemelut yang lalu, mereka berada di kubu yang mana. Saya tidak ingin tahu itu. Yang saya ingin adalah mari berasma-sama menyelesaikan misi ini. Artinya kami berorientasi kepada kepentingan yang lebih besar. Saat itu saya bagikan pin Merah Putih. Ini bukan untuk gagah-gagahan tapi saya ingin mereka mengingat kepentingan negara selalu di atas kepentingan golongan dan kelompok.

Dua hari berikutnya saya ke rumah Pak Arifin di Jenggala dalam rangka menjalin komunikasi. Saya juga bertemu Pak George di sana. Begitu selesai ngobrol dengan Pak Arifin dan Pak George, saya lihat di sana banyak pendukung keduanya. Dan ternyata, lima orang Komite Normalisasi ada di sana. Saat itu saya baru sadar, mereka pendukung Pak Arifin.

Ketika saya ke FIFA, Thierry juga menanyakan kepada saya apakah di Komite Normalisasi ada pendukung Pak Arifin. Saya jawab, “Bukan hanya ada, tapi ada lima orang, mayoritas.” Lalu saya bertanya dari mana FIFA dapat nama saya dan ketujuh anggota Komite Normalisasi. Thierry tidak menjawabnya.

Thierry lalu mengatakan, “Terserah Pak Agum, apakah kelimanya mau diganti. Ajukan saja siapa nama penggantinya.” Tapi saya jawab tidak, karena saya bisa menggiring mereka untuk mengangkat kepentingan nasional.

Nah, yang menyangkut keputusan mengenai Pak George dan Pak Arifin ditolak atau gugur verifikasi, pada 27 April kita rapat dengan seluruh anggota Komite Normalisasi kecuali Pak Samsul (Ashar). Saya katakan, “Kita dibentuk FIFA, karena itu kita harus mematuhi petunjuk dari FIFA. Artinya apa? FIFA mengatakan George dan Arifin tidak layak maju sebagai calon. Sudah ditolak. Maka, ini harus jadi pegangan kita. Saya tahu Anda-Anda pendukung Pak George dan Arifin, tapi Anda-Anda berada di lembaga yang dibentuk FIFA yang membawa misi FIFA. Jadi kita harus mengikuti petunjuk FIFA. Ini stand point saya sebagai ketua. Terserah Anda-Anda. Kalau tidak sependapat dengan saya, tetap Pak George dan Arifin itu hak Anda. Kalau seperti itu Anda mengabaikan petunjuk FIFA, tidak bisa dong berada dalam satu wadah yang dibentuk FIFA. Silakan Anda memilih. Kalau tetap Pak Arifin dan George, kita harus pisah.”

Mereka lalu minta waktu, satu hari. Keesokan harinya kami kembali bertemu, kecuali Samsul. Saya tanyakan kepada mereka satu persatu. Saya persilakan mereka menyampaikan pendapat satu per satu. Semuanya sepakat untuk mendahulukan bangsa dan negara. Saya merasa sangat terharu dan saya katakan kalau saya hormat kepada mereka semua karena meski tetap mendukung Pak George dan Arifin, tetapi akhirnya demi kepentingan yang lebih besar mereka mau menerima keputusan FIFA.

Malam itu diputuskan Geroge, Arifin, dan Nirwan tidak disertakan pada proses verifikasi beserta ketujuh anggota Komite Eksekutif PSSI yang lama. Itu juga dari saran mereka. Semuanya tanda tangan.

Keesokan harinya, 29 April 2011 jumpa pers untuk mengumumkan keputusan Komiter Normalisasi. Sebelumnya kita kumpul dulu di ruang rapat. Saya cek lagi mengenai kesiapan bertujuh, tidak ada perubahan. Sebelum jumpa pers saya ajak berangkulan dan berdoa agar keputusan ini diridhoi yang Maha Kuasa.

Nah, setelah jumpa pers, saya heran mulai muncul komentar-komentar mereka yang saya juga kaget kenapa begini. Ada yang Yang menyatakan saya otoriter. Saya akhirnya tanya Pak Joko, kenapa bisa begini. Saya undang untuk bertemu, responsnya juga tidak bagus. Sampai kemarin, saya coba mengumpulkan mereka tidak juga bisa.

Saya juga sedih kenapa keluar omongan seperti itu. Buktinya mereka sudah tanda tangan. Jadi, tidak gentle, menusuk lagi dari belakang dengan mengatakan saya otoriter. Kalau saya otoriter, saya tidak perlu ke Zurich sana. Dengan mandat yang diberikan FIFA sejak awal saya juga bisa menjalankan Komite Normalisasi. Tapi saya sudah berusaha akomodatif dan aspiratif. Saat menghadap ke Zurich, Kelompok 78 mengatakan saya pahlawan. Tapi ketika perjuangan saya gagal, saya dituduh pengkhianat.

Lalu apa langkah Anda selanjutnya?

Kalau sudah seperti ini, sabar saya sudah habis. Saya sudah terlalu komunikatif, terlalu akomodatif. Sudah saatnya saya harus bersikap tegas karena di sana (FIFA) Thierry juga sudah menyarankan saya untuk reshuffle sejak dua minggu lalu. Saat itu saya masih punya keyakinan, namun sekarang apa boleh buat.

Kami telah mengirimkan nama-nama calon pengganti. Ada enam yang kami ajukan, tapi keputusan FIFA apa mau mengganti dua atau berapa itu terserah mereka. Nama yang kami sodorkan ada ada enam orang.

Yang tiga kan sudah sudah oke, saya (Agum Gumelar), Joko (Driyono), dan Rudi Hadiatmo. Jadi, yang lima lainnya (Sukawi Sutarip (Pengprov PSSI Jawa Tengah), Siti Nuzanah (Arema), Samsul Ashar (Persik Kediri), H. Satim Sofyan (Pengprov PSSI Banten), dan Dityo Pramono (PSPS Pekanbaru)) yang akan diganti.

Kalau memang FIFA menilai Komite Normalisasi cukup lima orang berarti hanya dua yang diganti. Terserah merekalah. Kami mengirim nama-nama itu dua hari lalu.

Apa saran Anda kepada Kelompok 78?

Dukungan kelompok 78 terhadap George dan Arifin itu wajar-wajar saja. Namun, mereka harus legowo menerima kenyataan bahwa perjuangan yang saya lakukan telah gagal. Usaha-usaha yang lain juga gagal atau tim yang mereka bentuk untuk ke FIFA juga gagal. Saya tetap berharap kelompok 78 bisa berjiwa besar.

Bahwa pada Kongres nanti mereka tidak mau datang karena George dan Arifin  tidak lolos, itu silakan saja. Memboikot kongres itu juga hak mereka. Namun, jangan ada keinginan menyabot Kongres dengan cara-cara anarkis atau dengan tindakan lain yang menimbulkan anarkis. Saya sarankan: urungkan niat itu. Kalau sampai melakukannya, kami siap menghadapinya. Masyarakat juga sudah bosan dengan aksi anarkis.

Saya ingin spirit rekonsiliasi kita angkat ke permukaan. Artinya, lupakan masa lalu yang kelam yang banyak diwarnai sikap arogan, saling tuduh, saling maki, saling caci. Marilah kita lupakan itu. Jangan lagi kita ungkit-ungkit kesalahan yang lama. Dari kepengurusan yang lama ada beberapa hal yang baik yang harus kita teruskan namun banyak hal yang harus kita lupakan tanpa harus lewat caci maki.

Sekarang yang penting kita berdoa agar kongres bisa berjalan. Apapun hasil kongres ini saya akan tetap mengawal agar kepengurusan baru ini tidak sama seperti kepengurusan dulu. Saya akan duduk di Dewan Kehormatan. Saya ingin mengajak masyarakat Indonesia menyadari bahwa warisan sejati dari olahraga adalah persahabatan bukan kebencian.