Masjid Agung Surakarta

Bangunan masjid merupakan elemen yang tidak dapat dipisahkan begitu saja dari proses perkembangan sejarah Islam di Jawa. Karena seperti kita ketahui bahwa menurut tradisi Islam suatu pusat pemerintahan harus memiliki unsur-unsur antara lain :

1. Keraton sebagai pusat pemerintahan dan tempat tinggal raja.
2. Masjid sebagai tempat ibadah utama dan berkumpulnya mukmin.
3. Alun-alun sebagai tempat rakyat bertemu dengan rajanya.
4. Pasar sebagai tempat kegiatan ekonomi.
https://i2.wp.com/farm4.static.flickr.com/3098/3236423984_a6f45e4b4d.jpg

Dasar keempat unsur pemerintahan dalam tradisi Islam seperti tersebut di atas, khususnya yang berasal dari zaman kemegahan Keraton Surakarta Hadiningrat, Masjid Agung Surakarta merupakan salah satu unsur yang masih tegak dan secara fisik masih dapat dilihat.

Meski Masjid Agung Surakarta kini sudah berusia dua abad lebih sejak mulai didirikan oleh Raja Surakarta Paku Buwono III (PB III) pada tahun 1785 lalu atau menurut tahun Jawa 1689, namun masih tampak kokoh dan setiap hari silih berganti dikunjungi umat Islam yang ingin melakukan kewajiban sholat. Apalagi letak Masjid tersebut tepat di depan Pasar Klewer maka para pedagang yang beragama Islam selalu memenuhi tempat tersebut bila saatnya tiba.
https://i0.wp.com/mw2.google.com/mw-panoramio/photos/medium/3836264.jpg

Banyak umat Islam dari berbagai daerah di luar kota Solo merasa kagum terhadap keanggunan Masjid Agung Surakarta yang dulunya bernama Masjid Besar itu. Bangunan seluruh pilar atau lainnya dari kayu jati yang berasal dari hutan Donoloyo (Alas Donoloyo) yang usianya sudah sangat tua. Yang menarik lagi, konon kubah (mustoko) Masjid itu pada zaman dulu dilapisi dengan emas murni seberat 7,5 kilogram terdiri dari uang ringgit emas ebanyak 192 buah. Pemasangan lapisan kubah Masjid itu diprakarsai oleh Sri Susuhunan PB VII pada tahun 1878 atau tahun Jawa 1786 dengan condro sangkolo “Rasa Ngesti Muji ing Allah”.

Tapi kubah emas itu sekarang sudah tidak ada lagi, entah dirawat atau atau dijual, lapisan emas murni itu tidak diketahui secara jelas keberadaannya. Konon, kubah berlapis emas itu juga pernah disambar petir sehingga porak poranda. Reruntuhannya ada yang diambil orang, lainnya tidak diketahui  dimana dirawat.
https://i0.wp.com/www.tribunnews.com/foto/berita/2010/8/19/Masjid_Agung_Surakarta,_Solo.jpg

Masjid Agung Surakarta juga mengalami perubahan atau pemugaran. Pertama kali dilaksanakan oleh PB IV, dengan memperluas, kemudian PB VII juga melakukan penyempurnaan. Pada tanggal 21 Agustus 1856, dibangun serambi yang maksudnya untuk pertemuan dan pengajian maupun untuk melakukan peringatan hari-hari besar Islam. Selain itu, PB X juga mengadakan perbaikan berupa pembuatan menara untuk adzan, memperbaiki gapuro depan dan tempat wudhu.

Biaya dalam membangun menara masjid mencapai 100.000 gulden pada tahun 1929 lalu. Tinggi menaranya sekitar 30 meter terbuat dari beton tulang. Untuk penguat pondasinya dipancangkan batang-batang kayu cemara.Pada masa lalu, sebelum dipasangi loud speaker, apabila MUADZIN (Tukang adzan) akan mengundangkan adzan, ia harus naik ke menara itu, namun sekarang tidak perlu lagi, cukup dari dalam masjid disalurkan ke loud speaker. Jadi tidak membuat ngos-ngosan tukang adzannya.
https://i2.wp.com/alifmagz.com/wp/wp-content/uploads/2010/06/masjidagungsurakarta3t.jpg

Bentuk bangunan Masjid Agung Surakarta itu memang menyerupai Masjid Agung Demak. Arsitekturnya mengandung filsafat Islam. Atap-atap masjidnya sarat mengandung makna.

Untuk atap pertama (bagian terbawah) yang lebar, mengandung makna bahwa dalam hidup ini kita harus dapat NGAYOMI (melindungi) umat untuk menjalankan perintah agamanya.

Atap kedua yang agak sempit bermakna bahwa perlindungan terhadap umat pilihan yang JUMLAHNYA SEDIKIT, artinya sudah menuju jalan kesempurnaan.

Sedangkan atap ketiga yang teratas melambangkan ilmu hakekat, yaitu gambaran bagi umat yang paling atas tingkatannya yaitu KEKASIH ALLAH atau “mukhibbin”. Mereka ini orang yang benar-benar “muttaqien” menjauhi larangan dan menjalankan segala perintah Allah SWT.

Masjid Agung Surakarta yang dulunya milik Keraton Surakarta kini sudah menjadi milik umat islam sejak tanggal 3 Juli 1962 oleh Menteri Agama ketika itu K.H. Syaifuddin Zuhri diserahkan pengelolaannya kepada umat Islam sendiri dan pemerintah hanya sebagai pengawas.

Memang sejak zaman Kerajaan Surakarta masih berjaya, maupun zaman penjajahan Belanda, Masjid ini menjadi barometer kemajuan umat Islam di kota Solo dan sekitarnya. Sampai sekarang pun fungsinya masih sama.