Pembuat Film “Innocence of Muslims”, Kriminal Berdarah Mesir

Dia semula disebut-sebut seorang warga Amerika keturunan Yahudi. Minggu, 16 September 2012, 21:24 Aries Setiawan Nakoula Basseley Nakoula digiring aparat keamanan AS

 

Nakoula Basseley Nakoula, pria yang mengaku sebagai pembuat film Innocence of Muslims, menyerahkan diri. Sabtu malam waktu setempat, 15 September 2012, dari kediamannya di kota Cerritos, negara bagian California, AS, dia dijemput sherif setempat. Dia minta diinterogasi aparat keamanan federal Amerika.

Digiring petugas, Nakoula berjalan menuju mobil dengan wajah rapat ditutup topi, syal, serta kaca mata hitam. Dia rupanya tak mau wajahnya dikenali orang. Tonton Video “Pembuat Film Anti-Islam Menyerahkan Diri”.

“Dia tidak pernah diborgol. Itu semua sukarela,” kata juru bicara Departemen Sherif Los Angeles, Steve Whitmore, seperti diberitakan Reuters.

Para pejabat AS mengatakan pihak berwenang tidak memeriksa Nakoula terkait filmnya yang dianggap telah menghina Nabi Muhammad dan Islam itu. Memproduksi film–meski memicu aksi kekerasan–tidak dianggap sebagai kejahatan di Amerika Serikat. Negeri Paman Sam memiliki undang-undang yang kuat melindungi prinsip kebebasan berbicara dan berekspresi.

Aparat akan menyelidiki Nakoula atas kasus penipuan bank yang dilakukannya. Nakoula telah mengaku bersalah atas penipuan bank pada tahun 2010. Untuk itu, dia telah dijatuhi hukuman 21 bulan penjara dan lima tahun masa percobaan.

Ia dituduh curang membuka rekening bank dan kartu kredit dengan menggunakan nomor jaminan sosial yang tidak cocok dengan nama pada aplikasi. Dibebaskan pada bulan Juni 2011, di musim panas itu dia lalu membuat film Innocence of Muslims itu.

Film yang trailernya berdurasi selama 13 menit ini diunggah di YouTube dan beredar luas di Internet.

Mengolok-olok Nabi Muhammad, unjuk rasa besar-besaran pecah di berbagai negara. Beberapa di antaranya dibarengi aksi kekerasan. Konsulat AS di Benghazi, Libya, pada 11 September 2012 lalu dirusak dan dibakar massa. Duta besar AS, Christopher Stevens dan tiga pejabatnya tewas diserang demonstran.

Dari Libya, unjuk rasa menyebar ke negara-negara lain di Timur Tengah dan Afrika. Para demonstran juga merusak kedutaan besar Amerika Serikat dan menyerukan slogan-slogan anti AS. Kabar terakhir menyebutkan, korban tewas telah mencapai 17 orang. Ratusan lainnya luka-luka. Tonton video “Protes Film Penghinaan Nabi Muhammad di Timur Tengah Meluas”.

Menteri Luar Negeri AS Hillary Clinton menegaskan pemerintah AS tidak ada hubungannya dengan film konyol itu. Meski dibuat oleh warga negara AS, Clinton menyatakan dia termasuk orang yang menentangnya. “Kami benar-benar menolak isi dan pesannya,” dia menegaskan. “Bagi kami, dan bagi saya pribadi, video itu sangat menjijikkan dan tercela. Tampak jelas sekali itu memiliki tujuan yang sangat sinis, yakni merendahkan agama dan memancing kemarahan.”

Siapa Nakoula

Ternyata, Nakoula Basseley Nakoula adalah warga Amerika Serikat berdarah Mesir. Pria yang lahir 55 tahun lalu itu tinggal di kota Cerritos, di negara bagian California, AS. Patut dicatat, meski beragama Kristen Koptik, dia bukanlah seorang umat Kristen yang saleh. Dia sejatinya seorang kriminal.

Nakoula pernah beberapa kali tersandung masalah hukum. Pada tahun 1997, dia pernah ditahan kantor Sherif Los Angeles. Pada 27 Maret 1997, dia didakwa karena memproduksi metamfetamin.

Mengaku bersalah, Nakoula dijatuhi hukuman satu tahun penjara dan tiga tahun masa percobaan pada 3 November 1997. Kantor Kejaksaan mengatakan dia melanggar masa hukuman percobaannya pada 8 April 2002 dan kembali dijebloskan ke bui selama satu tahun.

Pada 2010, dia terlibat penipuan bank–yang kini dijadikan alasan aparat AS untuk menahan dan memeriksanya.

Sejak film amatirnya itu menuai protes keras dari banyak umat Islam, Nakoula bersembunyi. Dia menjauhkan diri dari lingkungan sosialnya. Berbagai pihak mencoba menelusuri identitas dan keberadaan produser yang semula disebut-sebut bernama Sam Bacile, seorang Yahudi anti-Islam.

Wall Street Journal (WSJ) dalam sebuah artikelnya mencoba menelusuri produser film yang ketika itu asal-usulnya masih misterius. Selasa pekan lalu lalu, WSJ berhasil menghubungi Sam Bacile melalui telepon. Kepada WSJ dia mengaku berumur 52 tahun dan warga negara Amerika keturunan Israel. Dia juga terang-terangan mengaku anti Islam, bahkan menyebut agama ini sebagai “kanker peradaban”.

Rupanya dia berbohong. Dalam catatan pemerintah Amerika dan Israel, tidak ada warga mereka bernama Sam Bacile. Media di AS yang menelusuri riwayat Bacile, belakangan mengungkapkan bahwa dia juga ternyata bukan seorang Yahudi, melainkan seorang keturunan Arab.

WSJ melacak nomor telepon Bacile, dan ternyata dia beralamat di Cerritos, California. Di alamat itu, tertera nama penghuninya bukan Bacile, melainkan Nakoula Basseley Nakoula, seorang produser film. Kepada salah satu awak media, Nakoula pernah membantah bahwa dia adalah Bacile.

Kini, setelah identitasnya diketahui, Nakoula menyerahkan diri ke aparat dan membuat pengakuan mengejutkan: dialah sang pembuat film “Innocence of Muslims” yang telah membuat marah umat Islam itu.

Film murahan

Film itu dibuat dengan kualitas rendah. Tampak jelas, aktor-aktornya hanya “ditempelkan” di atas latar buatan padang pasir secara kasar. Alih-alih digarap serius, Innocence of Muslims terlihat sebagai sebuah film murahan yang konyol.

Saat diwawancarai WSJ, Nakoula mengaku membuat film itu untuk menggambarkan Islam sebagai agama yang penuh kebencian. “Ini adalah film politik, bukan film agama,” tuturnya.

Film berdurasi dua jam itu dia buat tahun lalu di California selama tiga bulan. Dalam menggarap film ini, Nakoula mengaku bekerja sama dengan 60 aktor dan 45 kru. Untuk mendanainya, dia mengaku mendapat donasi sekitar US$5 juta dari 100 orang Yahudi. Namun, saat ditanya siapa, dia menolak mengidentifikasinya.

Belakangan, kru dan para aktor film Innocence of Muslim mengaku diperdaya Nakoula. Mereka merasa telah dibohongi sang produser yang tiba-tiba mengubah judul dan naskah di tengah-tengah proses syuting, tanpa sepengetahuan mereka.

Kepada CNN, Rabu 13 September 2012, sebanyak 80 kru dan aktor yang terlibat dalam pembuatan film tersebut mengaku terkejut akan dampak yang ditimbulkannya.

“Seluruh kru dan pemain sangat sedih dan merasa disalahgunakan oleh produser. Kami 100 persen tidak berada di balik film ini dan telah diperdaya. Kami kaget dengan penulisan ulang naskah dan kebohongannya kepada kami. Kami sedih atas tragedi yang disebabkannya,” demikian tertulis dalam pernyataan bersama para kru.

Salah seorang aktor yang menolak disebutkan namanya mengatakan bahwa mereka pertama kali melakukan casting pada Juli 2011. Nakoula ketika itu mengatakan akan menggarap film berjudul Desert Warrior, sebuah film tentang sejarah Arab di gurun.

Menurut dia, pada naskah awal yang dibacanya, sama sekali tidak ada karakter Nabi Muhammad. Saat naskahnya tiba-tiba diubah oleh Nakoula, para kru dan aktor telah memprotes. Tapi, kepada mereka, Nakoula mengatakan perubahan dibuat semata agar kaum muslim berhenti membunuh.

Pada naskah awal, karakter Nabi Muhammad semula tertulis bernama “George”. Para aktor juga menyebut nama “George”, bukan “Muhammad”, saat syuting berlangsung. Namun, usai syuting, mereka diminta mengambil suara dengan mengucapkan kata “Muhammad”, yang ternyata belakangan disisipkan ke dalam film, menggantikan “George”.

Staf produksi yang mengaku memiliki naskah asli film ini juga menegaskan bahwa film tersebut awalnya dinyatakan tidak ada hubungannya dengan Nabi Muhammad dan Islam. “Saya tidak akan pernah terlibat dalam film yang mengakibatkan seseorang terluka. Saya mual saat menyadari bahwa saya terlibat dalam film yang menyebabkan seseorang tewas,” kata seorang aktris